Rabu, 17 April 2013

Fracture, 2007.



I shot my wife... prove it! Film bergenre thriller dan sangat apik. Keapikan datang dari acting apik Anthony Hopkins dan seting yang ditata apik pula. film ini berkisah tentang insinyur penerbangan yang sudah agak 'senja', Ted Crawford (Anthony Hopkins) yang mendapati istrinya yang memang cantik berselingkuh dengan seorang opsir polisi. Dibakar api cemburu, Ted merancang pembunuhan tanpa jejak terhadap istrinya. Di rumahnya sendiri yang eksotik. Ted menembak istrinya dari belakang.

Polisi datang, Ted ditangkap. Istrinya ternyata masih bernafas, namun mengalami koma. Adalah Willy Beachum (Ryan Gosling) yang ditunjuk menjadi jaksa penuntutnya. Sebagai jaksa muda yang penuh semangat, Willy mengira ini kasus mudah. Ternyata ini kasus rumit karena Ted telah merencanakan pembunuhan ini dengan teliti sehingga dia lolos dari jerat pengadilan. Dia dibebaskan karena kurang bukti. Namun di saat saat akhir, Willy menemukan cara untuk kembali menyeret Ted ke pengadilan.... (*)


Bukan tanpa alasan film saya bilang ini apik. film ini dibuka dengan bola (gundu) yang menggelinding dalam sebual rolling ball sculpture. Ini adegan bagus yang sukar dilupakan. 

Ada juga penampilan Porsche Carrera GT [980] yang aduhai. Rumah yang digunakan untuk lokasi shooting berlokasi di  Encino, California rumah milik tuan Sherman (Noeline Ave, Encino, CA), sebuah ranch home yang didesain oleh Peter Tolkin Architecture


Atas upaya upaya untuk menjadikan film ini eksotik, Produser Hawk Koch mengatakan, 

"My challenge was to make our film look like a 60 or 70–million dollar film and not spend anywhere near that kind of money. I'm proud that we could make a rich-looking movie, work decent hours and do it for a good price. We owe thanks to our D.P., Kramer Morgenthau, who can light fast and made every scene look exquisite. He's going to have a name as one of the best in the business for a long time to come".







Kamis, 11 April 2013

Harry Potter and the Sorcerer's Stone, 2001




Kadang film bisa disebut seni melebih lebihkan. Harry Potter yang dalam novel digambarkan begitu menderita dalam keluarga Dudley, lebih kelihatan menderita lagi ketika diadegkan dalam film. Durasi 15 menit pertama dihabiskan hanya untuk menggambarkan bagaimana tersiksanya Harry di tengah keluarga pamannya ini. Taktik jitu untuk meraih simpati penonton. Namun barangkali bukan contoh baik untuk film yang disantap semua umur.

Untunglah adegan muram ini cepat berganti dengan hari pertama di sekolah sihir Hogwarts. Aula sekolah benar benar mencerminkan kebesaran sekolah bergengsi ala Inggris. Konon masalah suasana ini, JK Rowling sang kreator Harry sampai harus mensupervisi langsung.

The Da Vinci Code, 2006


Setelah novelnya berhasil 'mengguncang' dunia, The Da Vinci Code kini hadir dalam layar lebar. Tak tanggung tanggung, aktor yang memerankan profesor Robert Langdon adalah aktor kawakan Tom Hanks. Seolah ingin menunjukkan betapa seriusnya film ini.

Film ini memang serius. Wajah wajah dalam lukisan Leonardo Da vinci seolah menatap heran adegan kejar kejaran seorang kurator musium Louvre dengan seorang pembunuh berjubah pendeta. Sementara itu adegan diselang oleh profesor Langdon dari Harvard sedang memberikan ceramah umum mengenai simbologi di panggung yang megah. Tak lama sang profesor diminta datang ke musium Louvre untuk menemui Kapten Bezu Face (Jean Reno). Sejak menaiki lift musium, ketegangan sudah dimunculkan lewat efek kamera, efek suara dan dialog Langdon - Face yang bernuansa curiga oleh sutradara Ron Howard.

Twilight, 2008



Batu, lumut, hutan nan hijau dan kabut. Itu yang ditangkap sutradara Catherine Hardwicke dari novel Stephenie Meyer. Dan itu juga seting yang dipergunakan untuk membuka film ini. Saya suka kesederhanaan sekaligus juga kesempurnaan. Saya kurang menyukai proses adaptasi novel ke film yang terlalu jauh menyimpang model the Firm nya John Grisham. Kota forks yang selalu mendung dan sering hujan dilukiskan dengan washer yang menyeka mobil yang membawa Bella ke rumah 'baru'nya. Ada karakter Bella yang berbibir seksi namun berwajah murung. 

Benar. Untuk gadis seusianya, Bella (Kristen Stewart) tidak seceria teman teman barunya di Forks High School, Mike, Erick (yang di film ini berwajah mandarin, barang kali untuk menyasar pasar China, ya?), dan Jessica. Lalu di kafetaria, datanglah rombongan keluarga Cullen. Edward Cullen (Robert Pattinson) datang belakangan. Adegan kedatangan dengan slow motion menjadikan mereka istimewa bak superhero.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...