Kadang film bisa disebut seni melebih lebihkan. Harry Potter yang dalam novel digambarkan begitu menderita dalam keluarga Dudley, lebih kelihatan menderita lagi ketika diadegkan dalam film. Durasi 15 menit pertama dihabiskan hanya untuk menggambarkan bagaimana tersiksanya Harry di tengah keluarga pamannya ini. Taktik jitu untuk meraih simpati penonton. Namun barangkali bukan contoh baik untuk film yang disantap semua umur.
Untunglah adegan muram ini cepat berganti dengan hari pertama di sekolah sihir Hogwarts. Aula sekolah benar benar mencerminkan kebesaran sekolah bergengsi ala Inggris. Konon masalah suasana ini, JK Rowling sang kreator Harry sampai harus mensupervisi langsung.