Sabtu, 29 Oktober 2011

Julia Roberts, Eat Pray Love, 2010

Kisah hidup seorang penulis populer berkebangsaan Amerika, Elizabeth Gilbert. Pada usia muda ia telah mencapai kesuksesan, dan kemudian menikah muda. Pernikahannya dengan Stephen hanya seumur jagung. Dilanjutkan hidup bersama dengan David, seorang artis panggung, malah lebih bikin stress. Akhirnya Liz ( Julia Roberts ) membuat resolusi untuk melakukan petualangan. Tempat yang ia pilih adalah Roma, India, dan Bali.
Di Roma liz mendapatkan kehangatan persahabatan ala Italia. Menyeruput cappucino, melahap pizza, sphageti, naik vespa, mengunjungi artefak peninggalan Romawi, mempelajari bahasa Itali nan eksotik, dan budaya keluarga Itali dengan katolik ortodoknya.  Liz menjadi pribadi liar dan bersemangat. Namun semua harus diakhiri sesuai janji sebelumnya, ia harus mengunjungi India.
Liz syok dengan keadaan India. Ia agak sukar melakukan ritual meditasi, melakukan pelayanan sosial ( dengan cara mengepel lantai ), dan bergelut dengan lingkungan kumuh India. Raut wajahnya menunjukan perasaan tertekan. Bagaimanapun akhirnya Liz mendapat pencerahan setelah mendengar kisah hidup Richard asal Texas, yang nyaris kehilangan seluruh hidupnya.
Kunjungan dilanjutkan ke Bali. Bali seperti surga. Di sana Liz mendapatkan keseimbangan antara meditasi dan menikmati hidup. Dibawah bimbingan Ketut Liyer, perlahan lahan matahari kembali bersinar di wajahnya. Liz memutuskan untuk tinggal di Bali. Bersama Filipe, orang Brazil yang sudah terlebih dahulu mencintai Bali....  (**)


Ketika adegan beralih ke India, kamera secara bebas menshoot bagaimana semrawut dan kumuhnya India. Bahkan ashram (tempat ibadah) digambarkan panas dan banyak nyamuk. Begitu beralih ke Bali, Thanks God, Bali digambarkan sebagai benar benar surga.
Disutradarai Ryan Murphy, agak sukar menafsirkan wajah Julia Roberts dari adegan ke adegan. Akting Julia yang biasanya natural, kali ini memang dituntut untuk berubah ubah. Di New York misalnya, sulit menafsirkan apakah wajah Julia stress, egois, atau tidak puas. Di Italia, Julia lebih banyak tersenyum, meski dicecar dengan sindiran tajam karena status cerainya. Di India, jelas wajah tertekan sangat kentara. Di Bali, rileks tiba tiba mengembang di wajahnya. Agaknya pembawaan Ketut Liyer yang humoris membuat Julia jauh lebih bisa menjaga keseimbangan hidupnya. I Love Bali, I Love Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...